Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan distribusi daging kurban di Masjid Istiqlal pada Iduladha 2026 difokuskan kepada pondok pesantren dan lembaga binaan resmi.
Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga ketertiban proses penyaluran sekaligus menghindari kerumunan masyarakat yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.
Menurut Nasaruddin Umar, skema distribusi langsung kepada lembaga yang telah terdata menjadi solusi yang lebih aman dibanding pembagian secara terbuka kepada masyarakat.
Ia menjelaskan pola distribusi lama pernah memicu antrean panjang hingga dorong-dorongan di lokasi pembagian. Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, penumpukan massa bahkan menyebabkan warga mengalami pingsan akibat berebut daging kurban.
Karena itu, pengelola Masjid Istiqlal memilih mekanisme distribusi yang lebih tertata dengan menyerahkan hewan kurban kepada pesantren yang telah terverifikasi untuk kemudian dilakukan penyembelihan di lokasi masing-masing.
Selain perubahan pola distribusi, Masjid Istiqlal juga memastikan proses penyembelihan hewan kurban dilakukan secara modern dan higienis.
Nasaruddin menegaskan seluruh limbah hasil penyembelihan dikelola melalui sistem khusus sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar maupun aliran sungai.
Masjid Istiqlal saat ini memiliki fasilitas penyembelihan modern dengan kapasitas pemotongan hingga 200 ekor hewan kurban per hari. Proses pemotongan dilakukan secara serentak di beberapa titik untuk mempercepat distribusi sekaligus menjaga standar kebersihan.
Menag menambahkan, pelaksanaan Iduladha tahun ini mengusung tema “Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan”.
Tema tersebut dinilai selaras dengan program ekoteologi dan teologi cinta yang terus dikembangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai upaya memperkuat nilai keagamaan yang ramah lingkungan dan berorientasi pada kemanusiaan.
Dikutip dari RRI.co.id
