Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil mempertahankan penguatan hingga penutupan perdagangan Kamis (5/11/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.082 per dolar AS, menguat 86 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.168 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda tersebut didukung sentimen positif dari dalam dan luar negeri, terutama kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dari perkiraan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 5,47 persen pada kuartal III 2026 menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah. Selain itu, meredanya tekanan global dan penurunan harga minyak mentah dunia turut meningkatkan sentimen positif di pasar keuangan. Lukman menilai rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan selama kondisi sentimen domestik maupun global tidak mengalami perubahan drastis.
Penguatan rupiah juga sejalan dengan mayoritas pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS. Peso Filipina mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,85 persen, diikuti baht Thailand yang menguat 0,51 persen. Ringgit Malaysia naik 0,38 persen, rupee India 0,20 persen, yen Jepang 0,14 persen, dolar Singapura 0,12 persen, yuan China 0,06 persen, won Korea Selatan 0,05 persen, dan dolar Hong Kong 0,009 persen. Sementara itu, dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah dengan koreksi sebesar 0,32 persen. Dikutip dari Suara.com
