Respons Kebijakan The Fed, Prabowo Tekankan Pentingnya Fundamental Ekonomi yang Solid

Respons Kebijakan The Fed, Prabowo Tekankan Pentingnya Fundamental Ekonomi yang Solid

Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional sebagai langkah antisipasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Presiden menekankan pentingnya membangun kepercayaan investor global di tengah fenomena higher for longer dan ketidakpastian geopolitik yang memicu arus modal keluar (outflow). Presiden Prabowo menegaskan bahwa fundamental ekonomi yang solid adalah kunci utama agar pasar keuangan domestik tetap stabil dan mampu menarik kembali minat investor internasional.

Merespons instruksi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan di pasar modal Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa pihaknya kini membuka data kepemilikan saham di atas satu persen serta mengungkap profil pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner). Selain itu, OJK memperketat aturan likuiditas melalui pengaturan porsi saham publik (free float). Langkah-langkah reformasi sistem ini bertujuan agar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat lebih akurat mencerminkan kinerja fundamental perusahaan secara transparan.

Sebagai bantalan jangka panjang menghadapi volatilitas global, pemerintah fokus pada pendalaman pasar melalui peningkatan basis investor domestik. Upaya ini membuahkan hasil dengan pertumbuhan sekitar 5 juta single investor identification (SID) baru dalam satu tahun terakhir. Dengan memperkuat peran investor lokal, pasar modal Indonesia diharapkan memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap guncangan eksternal. Sinergi antara transparansi data, kebijakan moneter yang pruden, dan penguatan basis investor domestik menjadi strategi utama pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap inklusif di tengah tekanan ekonomi global. Dikutip dari Antaranews.com