Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Jumat pagi ke level Rp18.074 per dolar AS, didorong sentimen global yang dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memicu kenaikan harga minyak dunia dan mendorong pelaku pasar mengambil sikap lebih berhati-hati (risk-off) terhadap aset di negara berkembang. Rupiah tercatat menguat 37 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.111 per dolar AS.
Selain faktor geopolitik, pergerakan kurs rupiah juga dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II-2026 tumbuh 1,5 persen secara kuartalan, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 2,1 persen dan di bawah ekspektasi pasar 2 persen. Di sisi lain, belanja konsumen (Personal Spending) hanya naik 0,3 persen pada Juni 2026, sementara indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yakni PCE Price Index dan Core PCE Price Index, melandai menjadi masing-masing 3,7 persen dan 3,3 persen secara tahunan.
Josua menilai kombinasi ketegangan geopolitik, pergerakan harga minyak, serta perlambatan ekonomi AS akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi arah nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Permata Bank memperkirakan kurs rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.125 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan prospek kebijakan moneter global. Dikutip dari Antaranews.com
