JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (30/06), ditutup merosot tajam sebesar 141,04 poin atau 2,42 persen ke level 5.679,75. Pelemahan ini juga diikuti oleh indeks saham unggulan LQ45 yang terkoreksi 2,39 persen ke posisi 559,29. Ambruknya IHSG pada paruh pertama perdagangan hari ini utamanya dipicu oleh sentimen domestik, seiring dengan masih terbatasnya risk appetite atau keberanian mengambil risiko dari para investor di pasar modal.
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa minimnya risk appetite investor tercermin dari aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) yang masih berlanjut, di mana pada hari sebelumnya mencatatkan arus modal keluar sebesar Rp854,10 miliar. Kondisi ini diperberat oleh kecilnya bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Market Index yang saat ini hanya berkisar 0,46 persen, sehingga membatasi aliran dana pasif (passive flow) ke pasar saham domestik. Di tengah tingginya volatilitas ini, pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil mencermati kebijakan domestik dan memprioritaskan saham-saham berfundamental kuat.
Berdasarkan data penutupan sesi I, aktivitas pasar mencatatkan 887.700 kali transaksi dengan volume 10,14 miliar lembar saham senilai Rp7,50 triliun. Sebanyak 618 saham melemah, sementara hanya 103 saham yang menguat, dan 238 saham stagnan. Seluruh sektor (11 sektor) kompak mendekam di zona merah dengan penurunan terdalam dipimpin oleh sektor barang baku (turun 4,31 persen) serta sektor energi (turun 3,32 persen). Meski dibayangi koreksi jangka pendek, IHSG diproyeksikan masih memiliki peluang rebound mengingat bulan Juli secara historis cenderung menjadi periode yang positif bagi pasar saham. Dikutip dari Antaranews.com
