Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/3/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang memicu ketidakpastian global, khususnya terkait arah kebijakan suku bunga acuan The Fed. IHSG terkoreksi 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47, sementara indeks saham unggulan LQ45 juga turun 0,20 persen ke level 786,21.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah yang telah memasuki hari keenam meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi. Hal ini membuat pasar merevisi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC 17-18 Maret mendatang. Proyeksi pemangkasan suku bunga kini turun menjadi sekitar 40 bps sepanjang 2026, dari sebelumnya 50 bps. Ketegangan militer di kawasan Teluk dan pernyataan politik AS terkait kepemimpinan di Iran turut melambungkan harga minyak mentah Brent hingga 4,93 persen ke level 85,41 dolar AS per barel.
Selain faktor geopolitik Timur Tengah, tekanan terhadap IHSG juga datang dari perlambatan ekonomi China. Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia dengan porsi ekspor nonmigas mencapai 24 persen pada 2025, penurunan aktivitas industri di China berpotensi menekan permintaan komoditas nasional. IMF bahkan telah memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat menguji ketahanan ekonomi global melalui tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Di tengah volatilitas tinggi ini, investor disarankan untuk memperbesar posisi kas guna mengantisipasi risiko pasar di akhir pekan. Dikutip dari Antaranews.com
