JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026) bergerak melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp18.074 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp18.060. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah ini dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak global setelah kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) mengumumkan rencana serangan terhadap fasilitas energi di Yanbu dan Bandara Dammam, Arab Saudi. Ketegangan geopolitik tersebut kian memanas pascaserangan drone ke ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco yang menewaskan dua orang, sehingga memicu kekhawatiran serius atas gangguan pasokan energi dunia.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak 2,4 persen ke posisi 111,40 dolar AS per barel, sementara acuan West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel. Ansarullah Yaman mengklaim telah melancarkan empat serangan rudal dan drone dalam 48 jam terakhir yang menyasar Kementerian Pertahanan di Riyadh, Bandara Dammam, hingga kilang Aramco di Yanbu. Situasi keamanan yang memburuk di merespons Amerika Serikat untuk memerintahkan evakuasi sebagian personel diplomatiknya dari Arab Saudi, yang pada akhirnya memberi tekanan hebat pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tercatat bervariasi dengan tenor 10 tahun berada di level 7,42 persen (-1 bps) dan tenor 5 tahun menguat ke 7,25 persen (+41 bps). Volume perdagangan obligasi negara tertekan menjadi Rp18,28 triliun, seiring menciutnya kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun atau porsi 13,02 persen dari total SBN beredar. Ketidakpastian geopolitik global ini diperkirakan masih akan membayangi volatilitas pasar keuangan domestik dalam jangka pendek. Dikutip dari Antaranews.com
