Harga Beras Pecah Mahal, Produsen Bihun Keluhkan Tingginya Biaya Bahan Baku

Harga Beras Pecah Mahal, Produsen Bihun Keluhkan Tingginya Biaya Bahan Baku

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan industri bihun dalam negeri menghadapi kendala tingginya harga bahan baku beras pecah. Harga beras pecah di pasar domestik disebut mencapai Rp11.000, jauh lebih mahal dibandingkan harga internasional yang berkisar Rp5.700 hingga Rp6.000. Kesenjangan harga tersebut membuat produsen bihun mempertimbangkan impor karena bahan baku dari luar negeri dinilai lebih kompetitif untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Sarmuji menilai kondisi tersebut menjadi persoalan di tengah upaya pemerintah mendorong swasembada pangan. Pasalnya, stok beras di gudang Perum Bulog saat ini melimpah, tetapi industri bihun justru menghadapi kesulitan mendapatkan beras pecah dengan harga terjangkau dari dalam negeri. Ia juga mengingatkan bahwa pasokan beras Bulog yang lebih besar dibandingkan permintaan berpotensi menyebabkan penumpukan stok dan penurunan nilai beras apabila tidak diimbangi penyerapan yang memadai.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Perindustrian telah berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan guna mencari solusi. Pemerintah diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan bahan baku industri dengan ketersediaan beras dalam negeri melalui mekanisme harga yang kompetitif. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan industri bihun terhadap impor sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan stok beras nasional. Dikutip dari Suara.com