JAKARTA – Realisasi investasi Semester I 2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target tahunan membuktikan bahwa daya tarik Indonesia di mata investor masih terjaga kuat. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai ketahanan iklim investasi nasional ini berhasil bertahan di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, stabilitas makroekonomi yang terjaga, besarnya pasar domestik, serta konsistensi agenda hilirisasi menjadi pemikat utama bagi aliran modal masuk ke tanah air.
Meski mencatatkan rapor hijau, tantangan besar kini bergeser pada paruh kedua tahun ini. Rizal mengingatkan pemerintah bahwa fokus pada Semester II bukan lagi sekadar menarik komitmen di atas kertas, melainkan memastikan dana tersebut segera tereksekusi menjadi proyek produktif. Terlebih, para investor global diprediksi akan jauh lebih selektif dalam menanamkan modal akibat tensi geopolitik dan tingginya biaya pendanaan. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, serta penyederhanaan perizinan menjadi faktor kunci agar Indonesia tetap kompetitif dibanding negara kawasan lainnya.
Di sisi lain, catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang menunjukkan lonjakan penyerapan tenaga kerja hingga 1,44 juta orang—naik 15 persen secara tahunan—patut diapresiasi. Namun, Indef menggarisbawahi bahwa kuantitas lapangan kerja saja belum cukup untuk mengukur kualitas sebuah investasi. Pemerintah didorong untuk menggeser orientasi kebijakan menuju investasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan produktivitas, transfer teknologi, tingkat upah yang layak, serta penguatan sektor bernilai tambah tinggi seperti manufaktur, ekonomi digital, dan energi hijau. Dikutip dari Antaranews.com
