Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan biaya logistik internasional menjadi tekanan serius bagi industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan biaya operasional, terutama karena sebagian pelaku industri masih bergantung pada bahan baku impor. Adhi menegaskan, stabilitas rupiah sangat dibutuhkan agar perusahaan memiliki kepastian dalam memperhitungkan biaya produksi dan menjalankan kegiatan usaha. Oleh karena itu, GAPMMI berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain pelemahan rupiah, industri makanan dan minuman juga menghadapi lonjakan ongkos pengiriman kontainer ke sejumlah negara tujuan. Adhi mengungkapkan, biaya pengiriman kontainer ke Australia yang sebelumnya sekitar 1.000 dolar AS kini meningkat menjadi 3.000 dolar AS. Sementara itu, ongkos logistik ke China naik dari 200–300 dolar AS menjadi 700–800 dolar AS per kontainer. Kenaikan biaya logistik internasional tersebut semakin membebani pelaku industri, khususnya perusahaan yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global, pelaku usaha mulai mencari alternatif jalur pengiriman serta negara pemasok bahan baku agar proses produksi dan distribusi tetap berjalan.
Di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya logistik, Adhi menyebut permintaan produk makanan dan minuman masih relatif baik. Namun, peningkatan biaya produksi berpotensi memengaruhi kinerja industri apabila tidak segera diantisipasi. GAPMMI menilai penguatan pasokan bahan baku dalam negeri menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Meski demikian, pemenuhan kebutuhan bahan baku dari produksi domestik membutuhkan strategi jangka panjang karena belum seluruh komoditas dapat dipasok dari dalam negeri. Industri pun berharap pemerintah memperkuat sektor hulu agar ketersediaan bahan baku lebih terjamin dan daya saing industri makanan dan minuman nasional tetap terjaga. Dikutip dari Suara.com
