Jakarta – Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring spekulasi penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump. Meskipun rupiah sempat dibuka menguat tipis ke level Rp16.776 pada Senin pagi, pengumuman pengganti Jerome Powell tersebut memicu penguatan dolar secara global. Trump berharap pimpinan baru bank sentral dapat mendukung kebijakan suku bunga rendah, bahkan menargetkan angka hingga satu persen guna mendorong ekonomi Amerika Serikat.
Sentimen negatif terhadap rupiah juga dipicu oleh pernyataan Michelle Bowman dari The Fed yang menekankan perlunya sikap hati-hati dalam memangkas suku bunga. Meski Kevin Warsh dikenal berpengalaman, pasar tetap mencermati bagaimana ia akan menyeimbangkan independensi bank sentral dengan tuntutan politik Trump. Di saat yang sama, penguatan dolar AS memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang kini berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian kebijakan moneter AS menjelang berakhirnya masa jabatan Powell pada Mei 2026.
Walaupun dibayangi faktor eksternal, pelemahan rupiah diperkirakan akan tetap terbatas karena investor masih menantikan rilis data perdagangan dan inflasi domestik. Inflasi tahunan Indonesia diproyeksikan naik ke angka 3,8 persen, namun neraca perdagangan diperkirakan tetap mencatat surplus sebesar 2,45 miliar dolar AS. Berdasarkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak stabil dalam rentang kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS sepanjang hari ini. Dikutip dari Antaranews.com
