Medan – Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan sebanyak 3.554 warga masih bertahan di lokasi pengungsian akibat rentetan bencana hidrometeorologi. Berdasarkan data terbaru yang diperbarui per 1 Maret 2026 pukul 17.00 WIB, ribuan pengungsi tersebut berasal dari 921 kepala keluarga (KK) yang tersebar di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Meskipun bencana awal terjadi sejak akhir November 2025, kondisi cuaca dan pemulihan infrastruktur membuat ribuan jiwa belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, merinci bahwa konsentrasi pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan total 2.564 jiwa. Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Selatan tercatat sebanyak 990 jiwa masih menempati posko-posko darurat. Sri Wahyuni menegaskan bahwa data ini merupakan pembaruan terkini dari Pusdalops PB Sumut, dan pemerintah provinsi terus berupaya melakukan penanganan darurat serta penyaluran logistik secara berkala kepada para penyintas di titik-titik pengungsian.
Secara keseluruhan, bencana alam ini telah melanda 20 kabupaten/kota di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan, Binjai, Tebingtinggi, hingga wilayah kabupaten seperti Deliserdang dan Langkat. Pihak BPBD Sumut bersama pemangku kepentingan terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan, sementara pemerintah fokus pada percepatan pemulihan pascabencana guna mengurangi jumlah pengungsi secara bertahap. Dikutip dari Antaranews.com
