Pasca Low Base Effect, BPS Yakin Tekanan Inflasi April 2026 Lebih Terkendali

Pasca Low Base Effect, BPS Yakin Tekanan Inflasi April 2026 Lebih Terkendali

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Indonesia akan kembali bergerak ke level normal mulai April 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa lonjakan angka inflasi yang terjadi pada awal tahun ini disebabkan oleh fenomena efek basis rendah atau low base effect. Efek ini diprediksi akan berakhir pada Maret 2026, sehingga stabilitas indeks harga konsumen pada bulan-bulan berikutnya akan lebih mencerminkan tren fundamental ekonomi nasional.

Lonjakan inflasi pada Januari dan Februari 2026, yang masing-masing tercatat sebesar 3,55 persen dan 4,76 persen secara tahunan, dipicu oleh kebijakan insentif pemerintah pada awal 2025. Saat itu, pemberian diskon tarif listrik sebesar 50 persen secara masif menyebabkan angka indeks harga konsumen (IHK) berada di bawah pola normalnya. Karena titik perbandingannya terlalu rendah pada tahun lalu, persentase kenaikan nilai inflasi tahunan pada periode yang sama di tahun ini terlihat meningkat secara signifikan meski kondisi harga di pasar relatif terkendali.

Ateng Hartono menegaskan bahwa kondisi harga saat ini sebenarnya masih sejalan dengan tren fundamentalnya dan tidak menunjukkan gejolak yang mengkhawatirkan. Setelah dampak diskon tarif listrik tahun lalu tidak lagi menjadi faktor pembanding utama di kuartal kedua, BPS optimis dinamika inflasi akan lebih stabil. Dengan berakhirnya pengaruh low base effect, masyarakat dan pelaku usaha diharapkan mendapatkan gambaran data statistik yang lebih akurat mengenai kondisi ekonomi riil mulai April 2026 dan seterusnya. Dikutip dari Antaranews.com