Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa pemerintah hingga saat ini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah masih terus memantau perkembangan situasi global dan dampaknya terhadap harga minyak mentah sebelum menetapkan kebijakan strategis lebih lanjut.
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Airlangga menjelaskan bahwa asumsi makro dalam APBN 2026 menetapkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Meskipun fluktuasi harga global mulai terjadi akibat operasi militer Amerika Serikat di kawasan Iran, pemerintah tetap menyiagakan APBN sebagai instrumen peredam kejutan (shock absorber). Berbagai skenario mitigasi telah disiapkan untuk mengantisipasi dampak konflik yang diprediksi bisa berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang.
Di sisi lain, pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperingatkan adanya potensi lonjakan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel jika terjadi penutupan Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut merupakan rute utama bagi seperlima ekspor minyak dunia. Gangguan pada jalur ini diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga hingga 50 persen. Mengingat Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dari kawasan tersebut, pemerintah diingatkan untuk terus mewaspadai risiko pembengkakan anggaran subsidi jika harga pasar melampaui asumsi dasar APBN. Dikutip dari Antaranews.com
