Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan segera memperkuat langkah mitigasi risiko guna mengantisipasi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat eskalasi konflik antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Konsultan dan perencana keuangan, Elvi Diana, menyatakan bahwa pasar modal Indonesia memiliki elastisitas yang tinggi terhadap dinamika global. Jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, volatilitas pasar diprediksi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan oleh investor. Kondisi ini menuntut peran proaktif OJK dalam menjaga stabilitas pasar modal nasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks.
Pada perdagangan Rabu (4/3) pagi, IHSG tercatat melemah 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38, diikuti penurunan indeks LQ45 sebesar 0,41 persen ke level 802,31. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penerapan mode risk-off oleh investor yang cenderung menghindari aset berisiko untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah global. Elvi menjelaskan bahwa dampak konflik ini menjalar melalui jalur kenaikan harga komoditas energi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta potensi keluarnya aliran dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Guna menjaga kepercayaan pasar, Elvi menekankan pentingnya koordinasi erat antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan. Selain pengawasan yang optimal, kebijakan responsif diperlukan untuk meredam gejolak psikologis investor. Bagi investor ritel, disarankan untuk tidak panik dan tetap disiplin dalam strategi diversifikasi portofolio serta manajemen risiko. Keputusan investasi pada periode volatilitas tinggi ini harus tetap berbasis pada analisis fundamental yang kuat agar stabilitas pasar modal domestik tetap resilien menghadapi sentimen negatif global. Dikutip dari Antaranews.com
