Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan peringatan dini terkait munculnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia. Meski saat ini bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi di berbagai daerah, ancaman karhutla mulai terdeteksi secara nyata. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa kebakaran lahan mineral seluas lima hektare telah terjadi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Kamis (5/3/2026).
Laporan dari Direktorat Pengendalian Operasi BNPB menyebutkan bahwa petugas gabungan telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan lokalisir api guna mencegah kebakaran meluas ke area hutan lindung dan perkebunan warga. Selain di Sulawesi Selatan, penurunan curah hujan di wilayah Provinsi Riau dan Kalimantan Barat juga mulai meningkatkan risiko karhutla pada level moderat. Kondisi cuaca yang mulai berubah di beberapa titik ini memerlukan kewaspadaan ekstra agar tidak berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas.
Sebagai langkah antisipasi, BNPB memperkuat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat penanganan darurat dan meningkatkan akurasi pendataan titik panas (hotspot). Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan temuan titik api kepada otoritas setempat. Sinergi antara pemantauan teknologi satelit dan kesiapsiagaan aparat di lapangan menjadi kunci utama dalam memitigasi dampak karhutla menjelang transisi musim di tahun 2026. Dikutip dari Antaranews.com
