Gaza – Badai dan hujan lebat yang melanda Gaza dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir besar di kamp-kamp tenda, memperparah penderitaan warga meski gencatan senjata masih berlangsung, dilaporkan Reuters, Kamis (20/11/2025).
Air dan gelombang badai merusak ribuan tenda, membasahi kasur serta selimut, dan meninggalkan kondisi pengungsian semakin memprihatinkan. Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian akibat cuaca buruk ini mencapai US$4,5 juta (sekitar Rp75,2 miliar), termasuk 22.000 tenda yang hancur total.
Selain itu, makanan, obat-obatan, dan berbagai infrastruktur juga mengalami kerusakan. Organisasi bantuan lokal menyatakan bahwa sekitar 300.000 tenda baru sangat dibutuhkan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.
Hampir seluruh warga Gaza telah mengungsi selama lebih dari dua tahun perang dan kini tinggal di tenda-tenda sederhana. Pemerintah Gaza melaporkan lebih dari 22.000 tenda serta perlengkapan dasar seperti terpal, kasur, dan peralatan memasak hancur total akibat banjir.
Sistem air bersih dan sanitasi juga rusak parah, termasuk meluapnya lubang pembuangan limbah. Instalasi tenaga surya kecil, yang menjadi satu-satunya sumber listrik bagi warga, turut terdampak.
UNICEF memperingatkan persediaan bantuan akan habis dalam beberapa hari dan mendesak Israel untuk mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk. Hujan deras juga memperburuk kondisi kesehatan di kamp pengungsian, dengan sanitasi yang buruk dan kepadatan penduduk memicu lonjakan penyakit perut dan penyakit kulit.
Rumah sakit di Gaza, yang sudah kewalahan, melaporkan peningkatan jumlah pasien akibat kombinasi cuaca dingin, banjir, dan malnutrisi. Para pakar kesehatan menekankan bahwa bantuan darurat segera sangat penting untuk mencegah krisis kesehatan yang lebih parah. Dikutip dari RRI.co.id
