Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa eskalasi politik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak impor Indonesia. Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan pasar energi global mengingat posisi penting Venezuela sebagai salah satu produsen minyak dunia. Meskipun terdapat ketegangan geopolitik, harga minyak dunia terpantau masih relatif stabil pada kisaran 63 dolar AS per barel tanpa adanya gejolak harga yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ekspor minyak Venezuela tengah mengalami kelumpuhan akibat operasi militer dan blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kapal-kapal pengangkut minyak mentah yang dijadwalkan menuju Amerika Serikat dan Asia tertahan di pelabuhan karena belum mendapatkan izin keberangkatan. Meskipun situasi tersebut memicu kekhawatiran akan kenaikan harga minyak global di masa depan, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi serta koordinasi yang kuat untuk merespons setiap perubahan harga yang mungkin terjadi.
Di sisi lain, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi atau PIEP mengonfirmasi bahwa aset minyak mereka di Venezuela tetap dalam kondisi aman dan tidak terdampak oleh serangan militer tersebut. Melalui kepemilikan saham mayoritas pada perusahaan asal Prancis, Maurel and Prom, Pertamina memastikan bahwa operasional serta staf mereka di wilayah tersebut tidak mengalami gangguan. Sebagai langkah kewaspadaan, pihak Pertamina terus menjalin komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Caracas guna memantau perkembangan situasi keamanan di lokasi aset berada. Dikutip dari Antaranews.com
