Jakarta – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mendapat pujian dari pengamat politik Amsori Baharudin Syah atas gaya kepemimpinannya yang kerap turun langsung ke masyarakat, sejalan dengan konsep empathetic governance.
Amsori menilai kiprah Teddy menandai perubahan penting dalam praktik birokrasi Indonesia. Alih-alih hanya bekerja dari balik meja, Teddy memilih mengunjungi sekolah rakyat, mendengar cerita anak-anak dan orang tua, serta memahami persoalan masyarakat tanpa sekat protokoler.
“Yang dilakukan Teddy adalah bentuk tertinggi pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” ujar Amsori dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Pendekatan ini menunjukkan model kepemimpinan publik yang jarang terlihat di kalangan pejabat setingkat kabinet. Sementara birokrat modern biasanya berada di ruang rapat sebagai pengambil keputusan strategis, Teddy justru memindahkan sebagian ruang kerjanya ke tengah masyarakat.
“Di mata saya, Teddy hadir sebagai wujud negara yang mengasuh, bukan sekadar mengatur. Kehadiran fisik pejabat tinggi memiliki dampak psikologis yang kuat. Masyarakat merasa dilihat, didengar, dan dihargai,” kata Amsori.
Amsori menjelaskan konsep empathetic governance sebagai pendekatan kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya struktural. Mengacu pada teori Hannah Arendt tentang power as acting in concert, kekuasaan politik sejati muncul ketika pemimpin berada di ruang yang sama dengan rakyat dan membangun legitimasi melalui tindakan nyata.
“Teddy tidak menunjukkan kuasa administratif, melainkan kuasa moral. Ia membangun legitimasi dengan mendengarkan, bukan memerintah,” ujar Amsori.
Kunjungan Teddy ke sekolah rakyat, duduk bersila bersama anak-anak, berbincang santai dengan orang tua, dan mendengar keluhan tanpa catatan protokol menjadi simbol semangat state nurturing—negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya.
Gestur responsif ini juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya membuat kebijakan, tetapi memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu diterapkan. Amsori menekankan bahwa gaya kepemimpinan empatik seperti ini relevan untuk memulihkan kepercayaan publik di tengah skeptisisme terhadap pejabat negara.
“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar. Kehadirannya di akar rumput bukan pencitraan, melainkan bentuk pendidikan politik bahwa pejabat negara pun harus hadir sebagai sesama manusia,” tutup Amsori. Dikutip dari Antaranews.com
