Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat keuangan berkelanjutan dan implementasi nilai ekonomi karbon melalui partisipasi aktif di London Climate Action Week (LCAW) 2026. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa OJK fokus memastikan agenda keuangan berkelanjutan dan pembiayaan transisi di Indonesia tidak sekadar menjadi kebijakan, melainkan mekanisme pasar yang kredibel. Langkah ini krusial untuk membangun ekosistem pembiayaan yang transparan, stabil, berintegritas, serta mampu menarik kepercayaan investor global demi masa depan ekonomi nasional yang lebih hijau.
Guna memperkuat arsitektur tersebut, OJK tengah mempercepat berbagai regulasi strategis, termasuk penyusunan RPOJK penerapan keuangan berkelanjutan (revisi POJK 51/2017) yang menyelaraskan standar pengungkapan nasional dengan global (IFRS S1 dan S2). Selain itu, OJK memperkenalkan inisiatif pembiayaan inovatif bertajuk Satu Karsa, sebuah platform blended finance yang berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan. Platform ini dirancang untuk mendanai proyek karbon berbasis alam, seperti reforestasi dan pemulihan lahan kritis, guna menghasilkan kredit karbon berkualitas tinggi sekaligus memberdayakan masyarakat lokal.
Di sisi lain, OJK terus mengoptimalkan perannya sebagai anggota Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sesuai Perpres No. 110 Tahun 2025 dengan mengawasi perdagangan karbon di IDX Carbon (Bursa Karbon Indonesia). Sejak diluncurkan pada 2023, bursa ini telah mencatatkan transaksi sekitar dua juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai mencapai lebih dari Rp93 miliar. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, revisi POJK 14/2023 akan segera diterbitkan dalam waktu dekat guna memastikan perdagangan karbon di pasar sekunder tetap mengedepankan integritas data, tata kelola yang baik, serta perlindungan bagi investor. Dikutip dari Antaranews.com
