JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memperkuat kolaborasi strategis di bidang riset pertanian guna mempercepat inovasi dan hilirisasi produk pangan. Kerja sama bersejarah ini didukung penuh oleh pemanfaatan seluruh laboratorium dan fasilitas penelitian milik Kementan yang tersebar luas di 38 provinsi di Indonesia. Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa sinergi ini menjadi momentum krusial agar hasil penelitian berbasis teknologi modern, seperti kecerdasan buatan (AI), genomik, robotik, dan varietas unggul tahan perubahan iklim, dapat segera diaplikasikan guna mendukung sistem smart farming nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyambut baik kolaborasi ini dan menyebutnya sebagai tonggak sejarah baru dalam peningkatan produktivitas pangan dalam negeri. Amran menegaskan bahwa inovasi hasil riset merupakan kunci utama untuk menjawab berbagai tantangan di sektor agrikultur saat ini. Guna mencapai target tersebut, pemerintah sepakat untuk menempatkan para peneliti langsung di kawasan pengembangan komoditas unggulan daerah. Langkah taktis ini diambil agar hasil riset di lapangan dapat langsung dirasakan manfaatnya dalam mendongkrak kesejahteraan para petani lokal secara berkelanjutan.
Dalam implementasinya, Kementan dan BRIN akan memberikan prioritas riset pada sejumlah komoditas strategis yang memiliki permintaan pasar sangat tinggi, antara lain kedelai, bawang putih, kakao, dan tebu. Salah satu target konkret dari kemitraan ini adalah memacu produktivitas bawang putih nasional, di mana saat ini inovasi yang ada baru mampu menghasilkan sekitar 4,6 ton per hektare. Melalui penguatan riset lanjutan dan adopsi teknologi pertanian berkelanjutan, kedua lembaga ini optimis mampu meningkatkan volume produksi komoditas tersebut demi memperkokoh fondasi ketahanan pangan dan menyukseskan swasembada pangan Indonesia. Dikutip dari RRI.co.id
